Kolaborasi Islam-Kristen
http://www.youtube.com/watch?v=PMnfjrDmTHEendofvid [starttext] Erupsi Merapi menyebabkan vegetasi yang ada di sekitar lerengnya mati karena terbakar dan tertutup pasir. Kalau punggung Merapi dibiarkan gundul, maka bencana serupa di Wasior berpotensi terjadi. Pada pertengahan musim hujan ini, adalah saat yang tepat untuk menghijaukan kembali lereng Merapi. Maka pemuda gereja dan Banser NU (Bantuan Serba Guna Nahdatul Ulama) bahu-membahu menanam bibit pohon di desa Balerante, kecamatan Kemalang, Klaten, 6 Januari 2010.
****
Setelah wilayah bahaya diturunkan di bawah radius 5 km dari puncak Merapi, maka satgas Derap Kemanusiaan dan Perdamaian segera mengirimkan puluhan ribu bibit pohon ke desa Balerante. Akan tetapi karena tenaga warga tersita untuk membresihkan puing-puing rumah mereka, maka mereka belum sempat menanam bantuan bibit tersebut. Lagipula tanggungjawab penanaman itu memang tidak semata-mata untuk warga Balerante. Warga yang ada di bagian bawah juga berkepentingan untuk penanaman kembali vegetasi di Merapi sebagai konservasi sumber air bersih mereka.
Maka kami lalu mengajak teman-teman dari Banser NU untuk bersama-sama menanam bibit itu. Gayung pun bersambut. Malam sebelumnya, kami mengadakan rapat koordinasi di rumah makan Andalas. Antusiasme Banser NU ditunjukkan dengan kehadiran komandan Banser tingkat kabupaten, para komandan sektor dan provost. Selain Baser NU, komponen yang terlibat adalah dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Klaten, Gereja Kristen Jawa (GKI) Klaten, GKJ Pedan, GKJ Gondangwinangun, GKJ Karangdowo, GKJ Ketandan, GKJ Ceper, GKJ Manisrenggo, dan GKJ Karangnongko.
Tepat pukul delapan, empat truk dan puluhan kendaraan pribadi yang mengangkut 427 relawan berkonvoi mendaki punggung Merapi. Tak ketinggalan ada delapan pendeta dan calon pendeta yang juga ikut terjun langsung ke lokasi penghijauan. Sesampai di Gondangwinangun, HP saya berdering. Cik Joli menelepon. Astaga! Saya lupa kalau GKI Sorogenen Solo juga mau gabung (Tapi sebelumnya saya bilang untuk kumpul 7:30. Jadi saya tidak sepenuhnya salah). Karena tidak mungkin menunggu, maka saya beri ancar-ancar kepada kontingen Sorogenen untuk menyusul.
Membawa rombongan besar seperti ini agak ribet karena sebagian besar peserta mengenal rute ke arah Balerante. Selepas Manisreonggo, saya menghentikan konvoi untuk re-grouping, namun rombongan yang belakang terlanjur kocar-kacir. Mereka ternyata mengambil jalur lain alternatif . Maka diputuskan untuk meneruskan perjalanan dan re-grouping di pasar Butuh.
Sesampai di lokasi, kami segera membagi rombongan menjadi empat titik. Titik A adalah di pemukiman penduduk. Titik B dan C mencakup ladang penduduk di sekitar jurang kali Woro. Sedangkan titik D berada di tempat paling tinggi yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Merapi. Kehadiran Banser sangat membantu aksi ini. Dengan dukungan fisik yang prima, mereka mampu menerobos lereng-lereng Mareapi yang sangat curam. Jangankan untuk mengangkut bibit. Bagi orang yang tidak bertubuh prima, menjangkau tempat itu dengan tangan kosong saja sudah ngos-ngosan. Apalagi okisgen di ketinggian itu juga menipis. Untungnya cuaca cukup mendukung. Dari pagi hingga tengah hari, langit tertutup oleh mendung. Namun tak urung kulit salah satu relawan terbakar sinar matahari. Maklum, orang ini bertipe orang rumahan.
"Aksi penghijauan ini bertujuan untuk mencegah bencana longsor dan sebagai konservasi sumber air bersih di wilayah Klaten, "jelas Agus Permadi, relawan dari Derap Kemanusiaan dan Perdamaiaan yg menjadi koordinator aksi ini. Ada dua jenis pohon yang ditanam. Pertama, pohon yang bernilai eknomis seperti pisang, mlinjo, nangka, apokat dan sirsak. Bibit ini sengaja ditanam di dekat pemukiman warga. Kedua pohon yang berfungsi sebagai konservasi, seperti munggur, sengon siklon, jabon, dan mindi. Pohon ini ditanam di pinggir sungai, tepian jurang dan di dekat Taman Nasional Gunung Merapi.
"Kami menyambut baik kerjasama ini dan berharap dapat dilanjutkan pada masa yang akan datang," kata Jafar, komandan Banser NU kabupaten Klaten. "Kami siap mendukung jika gereja akan mengadakan penghijauan di tempat lain, maupun jika akan melakukan aksi sosial lainnya." Untuk aksi ini, Banser NU mengerahkan 160 orang berasal dari sektor Kota, Kalokotes, Prambanan, Manisrenggo, Kemalang dan Karangnongko.
Kerjasama lintas iman ini bukan sekali ini dilakukan. Selama bertahun-tahun sudah terjalin hubungan yang harmonis antara gereja dengan NU di Klaten. Setiap Natal dan Tahun Baru, Banser NU selalu menerjunkan anggotanya untuk mengamankan ibadah di gereja. Menjelang Lebaran, gereja juga menjalin kerjasama dengan NU mengadakan pasar murah dan aksi sosial lainnya. [endtext]
****
Setelah wilayah bahaya diturunkan di bawah radius 5 km dari puncak Merapi, maka satgas Derap Kemanusiaan dan Perdamaian segera mengirimkan puluhan ribu bibit pohon ke desa Balerante. Akan tetapi karena tenaga warga tersita untuk membresihkan puing-puing rumah mereka, maka mereka belum sempat menanam bantuan bibit tersebut. Lagipula tanggungjawab penanaman itu memang tidak semata-mata untuk warga Balerante. Warga yang ada di bagian bawah juga berkepentingan untuk penanaman kembali vegetasi di Merapi sebagai konservasi sumber air bersih mereka.
Maka kami lalu mengajak teman-teman dari Banser NU untuk bersama-sama menanam bibit itu. Gayung pun bersambut. Malam sebelumnya, kami mengadakan rapat koordinasi di rumah makan Andalas. Antusiasme Banser NU ditunjukkan dengan kehadiran komandan Banser tingkat kabupaten, para komandan sektor dan provost. Selain Baser NU, komponen yang terlibat adalah dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Klaten, Gereja Kristen Jawa (GKI) Klaten, GKJ Pedan, GKJ Gondangwinangun, GKJ Karangdowo, GKJ Ketandan, GKJ Ceper, GKJ Manisrenggo, dan GKJ Karangnongko.
Tepat pukul delapan, empat truk dan puluhan kendaraan pribadi yang mengangkut 427 relawan berkonvoi mendaki punggung Merapi. Tak ketinggalan ada delapan pendeta dan calon pendeta yang juga ikut terjun langsung ke lokasi penghijauan. Sesampai di Gondangwinangun, HP saya berdering. Cik Joli menelepon. Astaga! Saya lupa kalau GKI Sorogenen Solo juga mau gabung (Tapi sebelumnya saya bilang untuk kumpul 7:30. Jadi saya tidak sepenuhnya salah). Karena tidak mungkin menunggu, maka saya beri ancar-ancar kepada kontingen Sorogenen untuk menyusul.
Membawa rombongan besar seperti ini agak ribet karena sebagian besar peserta mengenal rute ke arah Balerante. Selepas Manisreonggo, saya menghentikan konvoi untuk re-grouping, namun rombongan yang belakang terlanjur kocar-kacir. Mereka ternyata mengambil jalur lain alternatif . Maka diputuskan untuk meneruskan perjalanan dan re-grouping di pasar Butuh.
Sesampai di lokasi, kami segera membagi rombongan menjadi empat titik. Titik A adalah di pemukiman penduduk. Titik B dan C mencakup ladang penduduk di sekitar jurang kali Woro. Sedangkan titik D berada di tempat paling tinggi yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Merapi. Kehadiran Banser sangat membantu aksi ini. Dengan dukungan fisik yang prima, mereka mampu menerobos lereng-lereng Mareapi yang sangat curam. Jangankan untuk mengangkut bibit. Bagi orang yang tidak bertubuh prima, menjangkau tempat itu dengan tangan kosong saja sudah ngos-ngosan. Apalagi okisgen di ketinggian itu juga menipis. Untungnya cuaca cukup mendukung. Dari pagi hingga tengah hari, langit tertutup oleh mendung. Namun tak urung kulit salah satu relawan terbakar sinar matahari. Maklum, orang ini bertipe orang rumahan.
"Aksi penghijauan ini bertujuan untuk mencegah bencana longsor dan sebagai konservasi sumber air bersih di wilayah Klaten, "jelas Agus Permadi, relawan dari Derap Kemanusiaan dan Perdamaiaan yg menjadi koordinator aksi ini. Ada dua jenis pohon yang ditanam. Pertama, pohon yang bernilai eknomis seperti pisang, mlinjo, nangka, apokat dan sirsak. Bibit ini sengaja ditanam di dekat pemukiman warga. Kedua pohon yang berfungsi sebagai konservasi, seperti munggur, sengon siklon, jabon, dan mindi. Pohon ini ditanam di pinggir sungai, tepian jurang dan di dekat Taman Nasional Gunung Merapi.
"Kami menyambut baik kerjasama ini dan berharap dapat dilanjutkan pada masa yang akan datang," kata Jafar, komandan Banser NU kabupaten Klaten. "Kami siap mendukung jika gereja akan mengadakan penghijauan di tempat lain, maupun jika akan melakukan aksi sosial lainnya." Untuk aksi ini, Banser NU mengerahkan 160 orang berasal dari sektor Kota, Kalokotes, Prambanan, Manisrenggo, Kemalang dan Karangnongko.
Kerjasama lintas iman ini bukan sekali ini dilakukan. Selama bertahun-tahun sudah terjalin hubungan yang harmonis antara gereja dengan NU di Klaten. Setiap Natal dan Tahun Baru, Banser NU selalu menerjunkan anggotanya untuk mengamankan ibadah di gereja. Menjelang Lebaran, gereja juga menjalin kerjasama dengan NU mengadakan pasar murah dan aksi sosial lainnya. [endtext]
Tidak ada komentar: